Pandangan Islam memandang alam dan
seluruh isinya adalah tanda kekuasaan Allah SWT. Itulah sebabnya seluruh benda
yang ada dilangit dan dibumi, baik benda hidup maupun mati bertasbih dan
bersujud kepada Allah (Qs. al Hadid, [57]:1). Uniknya, hampir seluruh proses
kehidupan di bumi ini membentuk semacam mata rantai (ekosistem) yang saling tergantung,
saling membutuhkan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Secara
sederhana, langit ibarat atap bangunan yang terdiri dari udara dan ruang
angkasa yang dalam kekuasaan Allah mampu bertahan secara terus menerus diatas
permukaan bumi.
Namun demikian, akibat
kelalaian dan kecerobohan umat manusia dalam berhubungan dengan alam,
keteraturan dan keseimbangan tersebut menjadi rusak. Sehingga pemanasan global
menjadi tak terhindarkan lagi. Demikian juga perubahan iklim menjadi
fenomena yang tidak dapat dihindari. Sikap tidak peduli terhadap
keseimbangan alam merupakan salah satu sebab dari pemanasan global yang
kemudian berpengaruh terhadap perubahan iklim. Penilaian tersebut bisa dipahami
dari penegasan firman Allah:
“Jika mereka melihat sebagian dari langit
gugur, mereka akan mengatakan “itu adalah awan yang
bertindih-tindih”. (Qs. ath-thur: [52]:44)
Fakta kerusakan ekosistem yang
berdampak pemanasan global dan perubahan iklim secara tersirat ditegaskan dalam
firman Allah:
“dan andaikata kebenaran itu menuruti
hawa nafsu, pasti rusaklah langit dan bumi ini berikut semua orang yang berada
didalamnya. (Qs. al-mu’minun:[23]:71)
Ayat ini seolah-olah
ingin mengingatkan bahwa jika kebenaran (sunatullah) berupa keseimbangan
ekosistem yang menjadi penyangga alam semesta yang berfungsi membendung
pemanasan global kemudian dikalahkan oleh nafsu dan intervensi manusia, maka
pemanasan global dengan segala dampaknya akan sulit dibendung. Jika keadaan ini
terus terjadi maka hanya menunggu waktu saat kehancuran bumi.






0 komentar:
Posting Komentar